TUd6TUC0TUC9BUYoGUd9GfY6GY==
Breaking
News

17 Ribu Pasien TBC Ditinggal Dinkes, Sektor Maritim Justru 'Gercep' Selamatkan Pasien Cuci Darah

17 ribu pasien TBC di NTT belum terdeteksi, sementara sektor maritim cepat kirim obat cuci darah. Simak upaya penanggulangan krisis kesehatan NTT.
Font size
Print 0

17 Ribu Pasien TBC "Ditinggal" Dinkes, Sektor Maritim Justru 'Gercep' Selamatkan Pasien Cuci Darah

Upaya Cepat dari Sektor Maritim Selamatkan Pasien Cuci Darah

Lokal News, britaduatiga.com - 17 Ribu Pasien TBC - Penyakit menular seperti TBC dan masalah hemodialisis di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perhatian serius. Meskipun pemerintah setempat melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTT telah menetapkan sejumlah regulasi untuk mengatasi krisis kesehatan ini, capaian penanggulangan TBC dan masalah medis lainnya menunjukkan bahwa ada ketidakcocokan antara harapan dan kenyataan. Di sisi lain, sektor maritim justru menjadi penyelamat bagi pasien cuci darah.

Update Kasus TBC NTT; Masih Jauh Dari Target

Hingga tahun 2025, Dinkes NTT baru mencapai 62% dari target penemuan kasus TBC. Berdasarkan estimasi dari Kementerian Kesehatan, jumlah kasus TBC yang diperkirakan ada di NTT mencapai 17.928 orang, namun hanya sekitar 11.010 kasus yang tercatat. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam penanganan dan deteksi dini penyakit menular ini.

Apa yang menyebabkan ketidakberhasilan ini?

  • Jumlah penduduk yang besar dan tersebar di daerah-daerah terpencil

  • Akses terbatas ke fasilitas kesehatan

  • Skrining dan pelaporan yang tidak maksimal dari fasilitas kesehatan setempat

Sebagai bagian dari upaya untuk menanggulangi TBC lebih cepat, Dinkes NTT sudah mengeluarkan beberapa regulasi dan melakukan skrining massal di tujuh kabupaten. Namun, meski telah ada upaya yang cukup intensif, kesenjangan ini tetap memprihatinkan.

Upaya Maritim untuk Pasien Cuci Darah

Di tengah krisis kesehatan ini, sektor maritim tampil sebagai penyelamat, khususnya bagi pasien cuci darah. Kapal Calypso, yang mengangkut obat-obatan hemodialisis yang sangat dibutuhkan oleh pasien, mengalami keterlambatan akibat cuaca buruk selama lima hari. Hal ini sempat membuat pelayanan cuci darah di rumah sakit-rumah sakit di Kota Kupang tertunda.

Namun, berkat koordinasi yang cepat dan efektif antara Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Indonesian National Shipowners' Association (INSA) NTT, PT Pelindo, serta pihak kapal, jadwal sandar Kapal Calypso yang awalnya dijadwalkan pada 14 Februari 2026, dipercepat menjadi 13 Februari 2026. Dengan langkah ini, obat-obatan segera sampai ke rumah sakit, dan pelayanan hemodialisis dapat kembali dilanjutkan.

Kenapa langkah cepat ini sangat penting?
Pasien hemodialisis sangat bergantung pada obat dan bahan habis pakai yang harus tersedia tepat waktu. Jika keterlambatan pengiriman terjadi, risiko bagi pasien bisa sangat besar, bahkan fatal.

Krisis Kesehatan dan Upaya Terkoordinasi

Ketidakmampuan Dinkes Kota Kupang untuk memberikan respons yang memadai terhadap masalah TBC dan penanggulangan krisis kesehatan lainnya justru menjadi kontras dengan respons cepat dari sektor maritim. Meskipun Dinkes NTT sudah melakukan berbagai langkah, seperti penerbitan peraturan untuk percepatan penanggulangan penyakit menular, sektor maritim terbukti lebih tanggap dalam mengatasi krisis medis yang mendesak.

Cara Lapor Dinkes Kupang Jika Terjadi Kendala

Jika Anda atau keluarga menghadapi kendala terkait TBC atau pengobatan hemodialisis di Kota Kupang, sebaiknya segera laporkan ke Dinkes Kupang melalui saluran komunikasi resmi mereka. Meskipun saat ini respons dari Dinkes kota kurang optimal, melaporkan langsung dapat mempercepat penanganan atau setidaknya memberikan data yang dibutuhkan untuk perbaikan ke depan.

Kolaborasi untuk Kesehatan yang Lebih Baik

Keberhasilan sektor maritim dalam mempercepat pengiriman obat hemodialisis menunjukkan betapa pentingnya kerjasama antara berbagai sektor untuk menyelamatkan nyawa. Sementara itu, upaya Dinkes NTT dalam penanggulangan TBC memang harus ditingkatkan, agar target 90% penemuan kasus dapat tercapai sebelum 2025.

Penting untuk masyarakat untuk terus mendukung upaya-upaya ini, baik dengan laporan yang cepat kepada pihak berwenang maupun dengan mematuhi protokol kesehatan yang ada. Semoga kolaborasi lintas sektor yang baik dapat terus berkembang untuk menciptakan NTT yang lebih sehat.

FAQ

1. Apa itu TBC?
TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Biasanya menyerang paru-paru, tetapi dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.

2. Mengapa keterlambatan obat hemodialisis bisa berbahaya?
Obat hemodialisis sangat penting bagi pasien yang membutuhkan cuci darah secara rutin. Keterlambatan pengiriman obat bisa mengakibatkan kondisi pasien memburuk, bahkan berisiko fatal.

3. Bagaimana cara melaporkan masalah terkait kesehatan di NTT?
Anda dapat melaporkan masalah terkait kesehatan kepada Dinas Kesehatan Kota Kupang atau langsung menghubungi layanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan bantuan.

Source : berbagai sumber berita lokal

17 Ribu Pasien TBC Ditinggal Dinkes, Sektor Maritim Justru 'Gercep' Selamatkan Pasien Cuci Darah
Check Also
Next Post

0Comments

Link copied successfully