Sambutan Hangat untuk Sang Direktur Teknik
Sport, britaduatiga.com - Misi Besar di Balik Filosofi Baru Sepak Bola Indonesia - Alexander Zwiers, sosok yang kini menjabat sebagai Direktur Teknik PSSI, datang ke Indonesia bukan sekadar untuk bekerja. Baginya, negeri ini sudah seperti rumah kedua. Berasal dari Belanda dan menikah dengan wanita Indonesia, Zwiers merasa hubungannya dengan sepak bola nasional bukanlah proyek asing, melainkan panggilan hati. Dengan pengalaman internasional selama lebih dari dua dekade di berbagai negara seperti Qatar, Arab Saudi, Kazakhstan, hingga Yordania, ia datang membawa visi yang besar: membangun sistem sepak bola Indonesia yang berkelanjutan.
Filosofi: Bukan tentang Saya, tapi tentang Kita
Membangun Warisan, Bukan Sekadar Prestasi
Dalam wawancara eksklusifnya, Zwiers menekankan bahwa sepak bola bukan hanya soal kemenangan instan. "Ini bukan tentang saya," tegasnya, "tapi tentang sistem, pemain lokal, dan organisasi yang membangun warisan."
Identitas Sepak Bola Indonesia
Provokatifnya, Zwiers berani berkata: filosofi sepak bola Indonesia tidak boleh meniru Belanda atau Jerman. Filosofi itu harus lahir dari tanah Indonesia sendiri. “Apa itu pemain Indonesia? Bagaimana ia bermain? Nilai apa yang ia bawa untuk masyarakat?” Pertanyaan ini menurutnya wajib dijawab bersama klub, pelatih lokal, akademi, hingga komunitas.
Sistem, Bukan Instan
Pendidikan dan Lisensi Pelatih
Zwiers menyoroti pentingnya pendidikan pelatih. Lebih dari 15.000 pelatih sudah ada dalam sistem, namun kualitas harus terus dijaga. Ia mendorong adanya quality assurance system agar lisensi bukan sekadar formalitas, melainkan jalan menuju standar modern. Workshop, program online, hingga pendidikan berkelanjutan jadi kunci agar pelatih Indonesia bisa sejajar dengan dunia.
Sepak Bola untuk Semua Anak Indonesia
Indonesia dengan 70 ribu pulaunya jelas tantangan besar. Zwiers menegaskan, sepak bola tidak hanya untuk mereka yang berpotensi jadi pemain nasional, tetapi juga sebagai sarana sosial, kesehatan, dan komunitas. “Setiap anak harus punya kesempatan bermain,” katanya. Model pembangunan bertahap ala Jepang yang butuh 30 tahun menjadi inspirasi: tidak instan, tapi berproses.
Tantangan dan Harapan
Zwiers sadar betul, tantangan terbesar bukan sekadar menemukan talenta, tetapi membangun bridges antara tim nasional dengan klub. Pemain yang pulang ke klub harus tetap terpantau dalam jalur pengembangan. Ia juga menekankan, federasi bukan diktator yang memaksa klub, tetapi fasilitator yang membantu klub naik level melalui program edukasi dan dukungan teknis.
Filosofi Baru, Harapan Baru
Pesannya jelas: “Sepak bola menyatukan kita, bukan hanya untuk menang, tapi untuk membangun masa depan.”
Edukasi & Motivasi
Bagi anak muda Indonesia, pesan ini sangat relevan. Sepak bola bukan hanya mimpi jadi bintang, tapi juga soal disiplin, kerja keras, dan nilai kebersamaan. Dari lapangan kecil di desa hingga stadion besar, setiap tendangan adalah bagian dari perjalanan panjang bangsa menuju kejayaan sepak bola.
Call to Action (CTA)
Mari dukung transformasi sepak bola Indonesia! Bukan hanya dengan menonton, tapi dengan terlibat: mendukung pemain lokal, menghargai pelatih, dan menjaga semangat sportivitas. Karena jika sistem ini berhasil, maka Indonesia tidak hanya mencetak gol di lapangan tetapi juga mencetak sejarah di dunia. (bd)**
0Comments